Showing posts with label Askeb III (Nifas). Show all posts
Showing posts with label Askeb III (Nifas). Show all posts

7/19/2012

BENDUNGAN AIR SUSU


BENDUNGAN AIR SUSU

A.    Pengertian
1.      Bendungan air susu adalah terjadinya pembengkakan pada payudara karena peningkatan aliran vena dan limfe sehingga menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri disertai kenaikan suhu badan. (Sarwono, 2002)
2.      Bendungan air susu ibu adalah suatu kondisi yang terjadi akibat adanya bendungan pada pembuluh darah di payudara sebagai tanda asi mulai diproduksi (Danuatmaja, 2003).
3.      Bendungan air susu ibu adalah di sebabkan karena pengeluaran air susu ibu tidak lancar karena ibu tidak cukup menyusui/terlalu cepat disapih. Dapat pula disebabkan karena adanya gangguan let-down reflex (Wiknjosastro, 2002).

B.     Etiologi
Memberi ASI pada bayi merupakan proses alami sebagai kewajiban seorang ibu yang mengasuh anaknya. Karena ASI merupakan makanan utama untuk bayi umur 0-6 bulan pertama kehidupannya. Proses alami untuk memberikan ASI sudah dimulai saat terjadi kehamilan, karena bersama dengan hamil, payudara telah disiapkan sehingga setelah bayi lahir ibu bisa segera memberikan ASI pada bayinya. Sejak hari ketiga sampai hari keenam setelah persalinan, ketika ASI secara normal dihasilkan, payudara menjadi sangat penuh. Hal ini bersifat fisiologis dan dengan penghisapan yang efektif dan pengeluaran ASI oleh bayi, rasa penuh tersebut pulih dengan cepat. Namun keadaan ini bisa menjadi bendungan, pada bendungan payudara terisi sangat penuh dengan ASI dan cairan jaringan. Aliran vena dan limfotik tersumbat, aliran susu menjadi terhambat dan tekanan pada saluran ASI dan alveoli meningkat. Payudara yang terbendung membesar, membengkak, dan sangat nyeri. Payudara dapat terlihat mengkilat dan edema dengan daerah eritema difus. Puting susu teregang menjadi rata, ASI tidak mengalir dengan mudah, dan bayi sulit mengenyut untuk menghisap ASI. Wanita kadang- kadang menjadi demam(Sarwono, 2002).
Selama 24 hingga 48 jam pertama sesudah terlihatnya sekresi lakteal, payudara sering mengalami distensi menjadi keras dan berbenjol-benjol. Keadaan ini yang disebut dengan bendungan air susu atau “caked breast” , sering menyebabkan rasa nyeri yang cukup hebat dan bisa disertai dengan kenaikan suhu.
Kelainan tersebut menggambarkan aliran darah vena normal yang berlebihan dan penggembungan limfatik dalam payudara, yang merupakan prekusor regular untuk terjadinya laktasi. Keadaan ini bukan merupakan overdestensi sistem lacteal oleh air susu.
Demam nifas akibat distensi payudara sering terjadi. Demam tersebut mengkawatirkan terutama bila kemungkinan infeksi tidak dapat disingkirkan pada wanita yanga baru saja menjalani seksio sesarea. Roser (1966) mengamati bahwa 18% wanita yang normal akan mengalami demam postpartum akibat pembendungan air susu. Lamnya panas yang terjadi berkisar dari 37,8 hingga 39 C. pada kedua penelitian tersebut, insiden dan intensitas pembendungan air susu serta panas yang menyertainya lebih rendah bila diberikan pengobatan untuk menekan laktasi. Ditegaskan bahwa penyebab panas yang lain, khususnya panas yang disebabkan oleh infeksi, harus disingkirkan dahulu(Suherni, 2009).
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan bendungan ASI, yaitu:
Ø  Pengosongan mamae yang tidak sempurna
Dalam masa laktasi, terjadi peningkatan produksi ASI pada Ibu yang produksi ASI-nya berlebihan. apabila bayi sudah kenyang dan selesai menyusu, & payudara tidak dikosongkan, maka masih terdapat sisa ASI di dalam payudara. Sisa ASI tersebut jika tidak dikeluarkan dapat menimbulkan bendungan ASI.
Ø  Faktor hisapan bayi yang tidak aktif
Pada masa laktasi, bila Ibu tidak menyusukan bayinya sesering mungkin atau jika bayi tidak aktif mengisap, maka akan menimbulkan bendungan ASI.
Ø  Faktor posisi menyusui bayi yang tidak benar
Teknik yang salah dalam menyusui dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada saat bayi menyusu. Akibatnya Ibu tidak mau menyusui bayinya dan terjadi bendungan ASI.


Ø  Puting susu terbenam
Puting susu yang terbenam akan menyulitkan bayi dalam menyusu. Karena bayi tidak dapat menghisap puting dan areola, bayi tidak mau menyusu dan akibatnya terjadi bendungan ASI.
Ø  Puting susu terlalu panjang
Puting susu yang panjang menimbulkan kesulitan pada saat bayi menyusu karena bayi tidak dapat menghisap areola dan merangsang sinus laktiferus untuk mengeluarkan ASI. Akibatnya ASI tertahan dan menimbulkan bendungan ASI.

C.    Patofisiologi
Apabila terjadi penghisapan payudara oleh bayi, pelepasan prolaktin tidak terjadi dan pada hari ketiga dan keempat setelah melahirkan, bendungan pembuluh darah akan membesar pembuluh laktiferus dan air susu ibu harusbdiperas dengan hati-hati. Jika payudara tidak dikosongkan, maka alveoli akan mengalami kongestiti (bendungan dan terjadi pembengkakan karena air susu (Suherni, 2009)
D.    Gambaran klinis bendungan ASI
Gejala yang sering timbul pada bendungan air susu ibu antara lain:
1.      Nyeri payudara dan tegang, kadang payudara mengeras dan membesar (pada kedua payudara) besarnya terjadi antara hari 3-5 pasca persalinan
2.      Biasanya bilateral muncul bertahap menyebabkan demam dan tidak berhubungan dengan gejala sistemik. Payudara biasanya hangat saat disentuh
3.      Payudara terasa lebih penuh atau tegang dan terjadi sekitar hari ke- 3 atau ke- 4 setelah melahirkan. (Depkes RI, 2005)

Penatalaksanaan Bendungan ASI
v  Bila ibu menyusui
§  Susukan sesering mungkin
§  Susukan kedua payudara
§  Kompres kedua payudara sebelum disusukan
§  Bantu dengan memijat payudara untuk permulaan menyusui
§  Sangga payudara
§  Kompres dingin pada payudara diantara waktu menyusui
§  Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam
v  Bila tidak menyusui
§  Menyangga payudara dengan BH yang menyokong
§  Kompres dingin payudara untuk mengurangi pembengkakan dan rasa sakit
§  Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam
§  Jangan dipijat atau memakai kompres hangat pada payudara(Sarwono, 2002).


 DAFTAR PUSTAKA

Wiknjosastro, Hanifa. 2002. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta
Suherni. 2009. Perawatan Masa Nifas. Fitramaya. Yogyakarta
Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.






PERITONITIS : Komplikasi Nifas


PERITONITIS


PERITONITIS : Komplikasi Nifas
Peritonitis (radang selaput rongga perut) adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum). Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. Peritonitis adalah peradangan peritoneum, selaput tipis yang melapisi dinding abdomen dan meliputi organ-organ dalam. Peradangan disebabkan oleh bakteri atau infeksi jamur membran ini.
Peritonitis primer disebabkan oleh penyebaran infeksi dari darah dan kelenjar getah bening ke peritoneum. Jenis jarang peritonitis - kurang dari 1% dari semua kasus peritonitis primer.
Jenis yang lebih umum dari peritonitis, yang disebut peritonitis sekunder, disebabkan infeksi ketika datang ke peritoneum dari gastrointestinal atau saluran bilier. Kedua kasus peritonitis sangat serius dan dapat mengancam kehidupan jika tidak dirawat dengan cepat.

Penyebab
Peritonitis biasanya disebabkan oleh :
1.      Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi.
Yang sering menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung, usus, kandung empedu atau usus buntu. Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. Jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus, tidak akan terjadi peritonitis, dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati.
2.      Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual
3.      Infeksi dari rahim dan saluran telur, yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis kuman (termasuk yang menyebabkan gonore dan infeksi chlamidia)
4.      Kelainan hati atau gagal jantung, dimana cairan bisa berkumpul di perut (asites) dan mengalami infeksi
5.      Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan.
Cedera pada kandung empedu, ureter, kandung kemih atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri ke dalam perut. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus.
6.      Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis.
Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut.
7.      Iritasi tanpa infeksi.
Misalnya peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi.

Tanda dan Gejala
Tanda-tanda dan gejala peritonitis meliputi:
  • Pembengkakan dan nyeri di perut
  • Demam dan menggigil
  • Kehilangan nafsu makan
  • Haus
  • Mual dan muntah
  • Urin terbatas

Gejala
Gejala peritonitis tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya.  Biasanya penderita muntah, demam tinggi dan merasakan nyeri tumpul di perutnya.  Bisa terbentuk satu atau beberapa abses.
Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan, adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus.  Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama, komplikasi bisa berkembang dengan cepat.  Gerakan peristaltik usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah ke dalam rongga peritoneum. Terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit.  Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama, seperti kegagalan paru-paru, ginjal atau hati dan bekuan darah yang menyebar.

Diagnosa
Foto rontgen diambil dalam posisi berbaring dan berdiri.  Gas bebas yang terdapat dalam perut dapat terlihat pada foto rontgen dan merupakan petunjuk adanya perforasi.
Kadang-kadang sebuah jarum digunakan untuk mengeluarkan cairan dari rongga perut, yang akan diperiksa di laboratorium, untuk mengidentifikasi kuman penyebab infeksi dan memeriksa kepekaannya terhadap berbagai antibiotika.  Pembedahan eksplorasi merupakan teknik diagnostik yang paling dapat dipercaya.

Pengobatan
Biasanya yang pertama dilakukan adalah pembedahan eksplorasi darurat, terutama bila terdapat apendisitis, ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis.
Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita, pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan.  Diberikan antibiotik yang tepat, bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan cairan dan elektrolit bisa diberikan melalui infuse.
Kadang – kadang infeksi uterus meluas lewat system limfatik sehingga mencapai kavum abdomen dan menyebabkan peritonitis. Komplikasi ini sekarang dengan terapi segera sudah jarang dijumpai, tetapi masih dapat ditemukan pada infeksi sesudah seksio sesaria kalau terjadi nekrosisdan terbukanya luka insisi uterus. Kadangkala dalam stadium lanjut perjalanan selulitis pelvic, abses parametrium bisa mengalami rupture dan menimbulkan peritonitis generalisata yang merupakan malapetaka bagi penderitanya.
Peritonitis generalisata merupakan komplikasi yang fatal dan eksudat fibrinopurulen yang khas akan menimbulkan perlekatan usus, dan diantara gelung usus yang saling melekat itu dapat terbentuk gumpalan-gumpalan nanah. Ruang subdiafragma dan cul-de-sac kemudian dapat menjadi tempat pembentukan abses.
Secara klinis, peritonitis puerperalis menyerupai peritonitis bedah, kecuali rigiditas abdomen yang terjadi biasanya kurang begitu menonjol. Rasa nyeri bisa hebat. Distensi usus yang nyata merupakan akibata dari ilesus paralitik. Penyebab peritonitis generalisata harus dicari. Jika infeksi dimulai dalam uterus dan kemudian meluas ke dalam peritoneum, pengobatannya biasanya secara medis. Sebaliknya, peritonitis yang terjadi akibat lesi pada usus atau organ tambahannya harus diatasi dengan pembedahan.terapi antimikroba harus mencakup preparat yang paling besar kemungkinan khasiatnya terhadap infeksi Peptostreptococcus, Peptococcus, Bacteroides, Clostridium dan jenis – jenis bakteri koliformis aerob. Pemberian infuse cairan dan elektrolit merupakan terapi penting mengingat pada peritonitis generalisata akan terjadi pelepasan sejumlah besar cairan ke dalam lumen serta dinding traktus gastrointestinal, dan kadasng-kadang pula ke dalam kavum peritonei. Vomitus, diare, dan febris juga menjadi penyebab hilangnya cairan dan elektrolit. Volume cairan dan jumlah elektrolit yang diperlukan untuk menggantikan jumlah yang lepas ke dalam kavum abdomen, yang terserap dari dalam usus dan yang hilang lewat keringat (diaforesis) biasanya cukup besar, tetapi tidak begitu massif sehingga terjadi kelebihan isi sirkulasi. Karena ilesus paralitik biasanya merupakan gambaran yang menonjol, distensi traktus gastrointestinal harus dikurangi dengan pemasangan selang lambung. Pemberian makanna per oral harus dihentikan selama proses pengobatan sampai fungsi usus pulih kembali dan sudah terjadi flatus. Obat-obat untuk menstimulasi peristaltic tidak ada manfaatnya.
Eksudat purulen yang ada diantara  gelung usus atau diantara usus dan organ lainnya dapat menyebabkan terbelitnya usus. Sehingga timbul gejala ileus obstruktif. Dalam keadaan ini, sering kali diperlukan pembedahan. Pada awal perjalan penyakitnya tidak diperlukan pembedahan, meskipun abses dapat terbentuk di berbagai tempat serta memerlukan drainase, dan obtetri usus mekanis yang terjadi mungkin perlu diatasi.



Daftar Rujukan :
Prawiroharjo, Sarwono. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Fisiologi Patologi. Edisi 2. Jakarta. Buku Kedokteran EGC.


ENDOMETRISIS : Komplikasi Nifas


INFEKSI NIFAS
A.    Definisi Infeksi Nifas
ENDOMETRISIS : Komplikasi Nifas
       Infeksi nifas (infeksi puerperalis) adalah infeksi luka jalan lahir pasca persalinan, biasanya dari endometrium bekas insersi plasenta. Demam dalam nifas sebagian besar disebabkan infeksi nifas, maka demam dalam nifas merupakan gejala penting penyakit ini. Demam dalam nifas sering juga disebut morbiditas nifas merupakan index kejadian infeksi nifas. Demam dalam nifas selain oleh infeksi nifas dapat juga disebabkan oleh pyelitis, Infeksi jalan pernafasan, malaria, typhus dan lain-lain (Krisnadi, R. Sofie, 2005).
       Istilah infeksi nifas mencakup semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman – kuman ke dalam alat – alat genital pada waktu persalinan dan nifas.Masuknya kuman – kuman dapat terjadi dapat terjadi dalam kehamilan, waktu persalinan dan nifas. Demam nifas adalah demam dalam masa nifas oleh sebab apapun. Morbiditas puerpuralis adalah kenaikan suhu badan sampai 38C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama postpartum, kecuali pada hari pertama. Suhu diukur 4 kali sehari secara oral (dari mulut) (Wiknjosastro, 2006).
       Infeksi masa nifas (pireksia nifas) didefinisikan sebagai kenaikan suhu tubuh sampai 38C atau lebih, yang berlangsung selama 24 jam atau kambuh kembali sejak akhir 1 sampai akhir hari ke 10 setelah melahirkan atau abortus (Jones, L. Derek, 2002).

ENDOMETRITIS

A.     Definisi
Endometritis adalah suatu peradangan endoetrium yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri pada jaringan. Endometritis paling sering ditemukan setelah seksio sesaria, terutama bila sebelumnya pasien menderita koridamionitis, parkus dalam, atau pecahnya ketuban yang lama(Jones, L. Derek, 2002).
Endometritis merupakan infeksi polimikroba pada endometrium yang sering menyerang miometrium yang ada dibawahnya(Norwitz, 2007).

B.     Etiologi
Endometritis disebabkan oleh bakteri atau kuman. Kuman yang menyebabkan peradangan endometrium ini ialah golongan streptokokus, stapilokokus, adakalanya basil tuberkolusis dan gonokokus(Sulaiman, 2001).
Endometritis disebabkan oleh infeksi yagn terjadi pada hari pertama dan kedua setelah persalinan biasanya disebabkan oleh streptokokus grup A. infeksi lain yang terjadi pada hari ke 3 dan ke 4 setelah persalinan biasanya disebabkan oleh pathogen enterik (Escherichia coli) atau anaerob. Endometritis yang terjadi lebih dari satu minggu setelah persalinan sering diakibatkan oleh Chlamydia trachomatis(Walsh, V. Linda, 2008).

C.     Faktor predisposisi
Ø  Sectio cessaria,
Ø  Ketuban pecah,
Ø  Partus lama,
Ø  Anemia,
Ø  Perdarahan,
Ø  Jaringan plasenta yang bertahan,
Ø  Pemakaian AKDR terutama IUD,
(Krisnadi, R. Sofie, 2005)

D.     Gambaran klinis
Gambaran klinik tergantung jenis dan virulensi kuman, daya tahan penderita, dan derajat trauma pada jalan lahir. Kadang – kadang lokia berthan oleh darah, sisa – sisa plasenta, dan selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokiometradan dapat menyebabkan kenaikan suhu yang segera hilang setelah diatasi. Uterus pada endometritis akan membesar, serta nyeri pada perabaan dan lembek. Pada endometritis yang tidak meluas penderita pada hari pertama merasa kurang sehat dan nyeri. Mulai hari ke-3 suhu meningkat, nadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari suhu dan nadi menurun dan dalam kurang lebih satu minggu keadaan sudah normal kembali. Lokia pada endometritis, biasanya bertambah dan kadang berbau. Hal yang terakhir ini tidak boleh menimbulkan anggapan bahwa infeksinya berat. Malahan infeksi berat kadang disertai oleh lokia yang sedikit dan tidak berbau(Wiknjosastro, 2006).
Gambaran klinis endometritis berbeda – beda bergantung pada virulensi kuman penyebabnya. Biasanya demam mulai 48 jam pasca persalinan dan bersifat naik turun(remittens). His royan lebih nyeri dari biasa dan lebih lama dirasakan. Lokia bertambah banyak, berwarna merah atau coklat, dan berbau. Lokia yang berbau tidak selalu menyertai endometritis sebagai gejala. Sering ada subinvolusi. Leukosit naik antara 15000 – 30000/mm3. Sakit kepala, kurang tidur dan kurang nafsu makan dapat mengganggu penderita. Jika infeksi meluas, suhu turun berangsur – angsur normal pada hari ke-7 – 10(Krisnadi, R. Sofie, 2005).


E.     Tanda dan gejala
Gejala endometritis antara lain demam dan kedinginan, malaise, dan nyeri abdomen bagian bawah. Tandanya meliputi demam, uterus lunak, rabas vagina yang purulen, dan lokia rubra yang parah. Jika terdapat organism anaerob atau bentuk coli, lokia berbau tidak sedap(Walsh, Linda V, 2008).



F.      Penatalaksanaan
Karena virulensi dari beberapa organisme, sebaiknya berhati – hati dalam member antibiotika sebelum hasil kultur diperoleh untuk mengetahui organism yang menginfeksi dan sebsitivitas antibiotiknya. Kultur darah dilakukan bila dicurigai adanya infeksi sistemik.
Pasien dengan infeksi yang ringan hingga ke berat, biasanya jika mereka bersalin per vagina secara normal dapat ditangani dengan pemberian antibiotika melalui intravena diikuti dengan pemberian oral jika sudah tidak demam lagi selama 24 jam terakhir. Sefalosprin spectrum luas atau penicilin merupakan pengobatan palihan(Walsh, V. Linda, 2008).


INFEKSI PAYUDARA : Komplikasi Masa Nifas


INFEKSI PAYUDARA

A.    Definisi
INFEKSI PAYUDARA KOMPLIKASI NIFAS
Infeksi Payudara (Mastitis) adalah suatu infeksi pada jaringan payudara. Pada infeksi yang berat atau tidak diobati, bisa terbentuk abses payudara (penimbunan nanah di dalam payudara).  
Abses payudara merupakan komplikasi yang terjadi akibat peradangan payudara kronik. Dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, perembesan sekresi melalui fisura di putting, dan dermatitis yang mengenai puting.

B.     Penyebab
Infeksi payudara biasanya disebabkan oleh bakteri yang banyak ditemukan pada kulit yang normal (Staphylococcus aureus). Bakteri sering kali berasal dari mulut bayi dan masuk kedalam saluran air susu melalui sobekan atau retakan dikulit biasanya pada putting susu.
Mastitis biasanya terjadi pada wanita yang menyusui dan paling sering terjadi dalam waktu 1-3 bulan setelah melahirkan. Sekitar 1-3% wanita menyusui mengalami mastitis pada beberapa minggu pertama setelah melahirkan.
Pada wanita pasca menopause, infeksi payudara berhubungan dengan peradangan menahun dari saluran air susu yang terletak di bawah puting susu.
Perubahan hormonal di dalam tubuh wanita menyebabkan penyumbatan saluran air susu oleh sel-sel kulit yang mati. Saluran yang tersumbat ini menyebabkan payudara lebih mudah mengalami infeksi.

C.    Gejala
Gejalanya berupa:
-          Nyeri payudara
-          Benjolan pada payudara
-          Pembengkakan pada salah satu payudara
-          Jaringan payudara membengkak, nyeri bila ditekan, kemerahan dan teraba hangat
-          Nipple discharge (keluar cairan dari putting susu, bisa mengandung nanah)
-          Gatal-gatal
Pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada sisi yang sama dengan payudara yang terkena  Demam
-          Infeksi payudara

D.    Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Jika tidak sedang menyusui, bisa dilakukan mammografi atau biopsi payudara.

E.     Pengobatan
1.      Mastitis
Ø Berikan antibiotika :
-          Kloksasilin   500 mg  per oral 4 kali sehari selama 10 hari
-          atau Eritromisim 250 mg per oral 3 kali sehari selama 10 hari
Ø Bantulah agar  Ibu :
-          Tetap meneteki
-          Kompres dingin selama 15-20 menit, 4 kali/hari sebelum meneteki untuk mengurangi bengkak dan nyeri
Ø Berikan paracetamol  500 mg per oral
Ø Evaluasi 3 hari
2.       Abses payudara
Ø  Berikan antibiotika :
-          Kloksasilin   500 mg  per oral 4 kali sehari selama 10 hari
-          ATAU Eritromisim 250 mg per oral 3 kali sehari selama 10 hari
Ø  Drain abses
-          Anastesia umum di anjurkan
-          Lakukan insisi radial dari batas putting ke lateral untuk menghindari cedera atau duktus
-          Gunakan sarung tangan steril
-          Tampon longgar dengan kassa
-          Lepaskan tampon 24 jam, ganti dengan tampon kecil
Ø  Jika masih banyak pus, tetap berikan tampon dalam lubang dan buka tepinya
Ø  Yakinkan ibu untuk:
-          Tetap meneteki meskipun masih keluar nanah
-          Gunakan kutang
-          Kompres dingin selama 15-20 menit, 4 kali/hari sebelum meneteki untuk mengurangi bengkak dan nyeri
Ø  Berikan paracetamol 500 mg bila perlu
Ø  Untuk mengurangi nyeri bisa diberikan obat pereda nyeri (misalnya acetaminophen atau ibuprofen). Kedua obat tersebut aman untuk ibu menyusui dan bayinya
Ø  Evaluasi 3 hari

F.     Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya mastitis bisa dilakukan beberapa tindakan berikut:
·        Menyusui secara bergantian payudara kiri dan kanan
·        Untuk mencegah pembengkakan dan penyumbatan saluran, kosongkan payudara dengan cara memompanya
·        Gunakan tehnik menyusui yang baik dan benar untuk mencegah robekan atau luka pada putting susu
·        Minum banyak cairan
·        Menjaga kebersihan putting susu
·        Mencuci tangan sebelum dan sesudah menyusui.




Perbedaan Tanda dan Gejala

Bendungan ASI
Mastitis
Abses Payudara
1.      Nyeri payudara dan tegang, kadang payudara mengeras dan membesar.
2.      Biasanya terjadi antara hari 3-5 pasca persalinan
3.      Biasanya bilateral muncul bertahap menyebabkan demam dan tidak berhubungan dengan gejala sistemik. Payudara biasanya hangat saat disentuh

1.      Nyeri payudara
2.      Benjolan pada payudara
3.      Pembengkakan pada salah satu payudara
4.      Jaringan payudara membengkak, nyeri bila ditekan, kemerahan dan teraba hangat
5.      Gatal-gatal
Pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada sisi yang sama
1.      Nyeri payudara
2.      Benjolan pada    payudara
3.      Jaringan payudara membengkak dan teraba hangat.
4.      Nipple discharge (keluar cairan dari putting susu, bisa mengandung nanah)